Pagi yang cerah, ketika itu mekarlah sepucuk padi di tengah hamparan sawah yang mulai menampakkan warna putih kekuningan di atas permadani hijau, ya, musim kali ini petani agak muram, setelah setengah tahun lalu sawah mereka diterjang banjir, kali ini kebalikannya, air mulai langka, sehingga sawah-sawah pun seolah berlomba menyerap air dari bumu. Sepujuk padi itu hanya menghasilkan 90 butir calon padi, sedikit memang, tapi jika dibanding dengan pucuk-pucuk padi yang lain, dia termasuk beruntung. Dua minggu berlalu, dari ke-90 butir tersebut, malang sekali 4 butir dari mereka yang tidak kebagian putik, sehingga bisa dipastikan mereka mandul dan tidak dapat menghasilkan beras, namun lebih malang lagi 6 dari sisa butir padi, mereka dimakan burung, sungguh malang.

Hari berganti, mentari bergulir, bulan berlalu, tibalah saatnya panen, dari 90 butir calon padi, hanya 73 butir yang selamat, seolah-olah mereka bersorak, akhirnya kita jadi berguna bagi manusia, walaupun ini merupakan awal dari perjalanan yang melelahkan. Benar juga, setelah 1 hari mereka dipanen, mereka harus dijemur selama 3 hari, setelah itu, mereka akan digiling dan menghasilkan butiran-butiran beras, lega sekarang.

Tersebutlah 7 bersaudara butiran beras dari ke-73 butir yang akhirnya berada dalam sebuah karung, "wah, capek ya nunggu supaya kita sampai ke piring dan bermanfaat bagi manusia, Aku ingin sekali masuk ke dalam mulut manusia, dan apabila aku menjadi daging, maka aku akan lebih bahagia". Dari ke7 butir tersebut antara lain, Pulen, Role, Cisa, Gagi, Keta, Irnam dan Pols, mereka merasa sangat beruntung sekali telah melakukan perjalanan yang panjang tapi tak terpisahkan, hingga suatu hari...... Pulen dan Keta harus berpisah, tapi sekarang mereka senang karena akan dibuat menjadi sebuah roti, dan ketika mereka telah berhasil masuk ke dalam mulut manusia, mereka pun mengirimkan salam teakhir pada ke-lima saudaranya. "Aku bersyukur pada tuhan, semoga semua orang yang telah membantu aku hingga ke mulut ini akan diberikan pahala yang besar", semua temannya pun ikut merasakan kegembiraan yang sama.

Hingga suatu pagi, Role dan Gagi mengikuti jalan kedua saudaranya terdahulu, tapi mereka merasa lebih beruntung, mereka dijadikan santapan untuk hidangan berbuka puasa, alangkah senangnya, dan ketika mereka masuk ke dalam mulut, mereka kembali mengirimkan pesan kepada sisa temannya, "Alangkah senangnya kami, menjadi bagian dari ibadah, semoga tercurahkan segala kebaikan atas orang yang telah membantuku masuk ke dalam mulut ini".

Ternyata, nasib yang hampir sama juga dialami seluruh sisa butiran nasi, Cisa, Irnam dan Pols telah menjadi nasi, Nasib baik dialami Cisa, Ia akhirnya masuk ke dalam mulut dan sambil berdoa Cisa menyampaikan salam terakhir kepada semua temannya, tapi nasib buruk dialami Irnam, ketika itu karena kecerobohan sang manusia, butiran nasi itu jatuh ke lantai dan terinjak sehingga hancur, walaupun hancur namun Irnam masih sempat menangis hingga terdengar oleh saudaranya Pols, akhirnya Irnam pun menjadi sia-sia, setelah hancur lebur terkena sapu.
Nasib Pols pun tidak terlalu berbeda, ternyata tuan mereka tidak memakan keseluruhan nasi yang telah ada pada piring mereka, betapa malangnya nasi-nasi itu, setelah melampaui jarak ribuan kilau, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, namun ketika sudah terhidang di atas piring, mereka tidak jadi ikut dimakan.

Kita sebagai manusia tidak tahu, Tuhan memberikan rahmat kepada kita melalui makanan yang mana? apakah seluruh nasi pada piring kita, atau seluruh harta kita, atau hanya pada sebutir nasi di setumpuk makanan kita? Maka janganlah sekali-kali membuang nasi yang telah ada di dalam piring kita ketika makan, karena kita tidak tahu, pada butiran mana Tuhan memberikan rahmat kepada kita.

Related Posts by Categories



Widget by Hoctro | Jack Book

0 comments